Unik! Di Indonesia, Garam Tidak Hanya di Produksi dari Laut
taukah-anda.com - Krayan - Sangat jauh dari laut terdapat kawasan dataran tinggi di Kalimantan Utara yang hanya bisa dijangkau lewat udara dari wilayah Indonesia lain, di sana pada ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (dpl), produksi garam justru sangat melimpah. Pepatah lama yaitu Garam di laut dan asam di gunung sepertinya berhasil dipatahkan.
300 kg garam bisa dihasilkan hanya dalam dua pekan. Produksi garam ini lebih dari konsumsi harian masyarakat di sana dan dibuat menjadi oleh-oleh khas Krayan bahkan dijual sampai ke Malaysia, negeri tetangga terdekat yang hanya dibatasi oleh perbatasan negara yang langsung bersebelahan dari wilayah yang masuk Kabupaten Nunukan tersebut.
Mereka sudah puluhan tahun memproduksi garam tucu’ yang merupakan sebutan nama garam dalam bahasa setempat.
Pa’nado adalah lokasi tempat sumur garam gunung di wilayah Krayan, Pa'nato sangat berkaitan erat dengan tradisi dan kepercayaan suku Dayak Lundayeh yang mendiami wilayah Krayan.
Dahulu kala dikisahkan dalam legenda warga masyarakat setempat bahwa sumur itu pada awalnya adalah lubang tempat seekor burung yang terjatuh setelah dipanah oleh nenek moyang salah satu sub suku Dayak di wilayah tersebut.
Setelah dengan sangat susah payah diambil kembali, burung tersebut dibakar untuk disantap bersama. Akan tetapi saat disantap bersama oleh warga rasa daging burung tersebut justru asin. Kemudian keesokan harinya warga kembali ke lokasi jatuhnya burung tersebut untuk memastikan bahwa air di lubang itu memiliki rasa asin.
Berawal dari kejadian itu pula diketahui bahwa air asin tersebut berasal dari lubang yang kini menjadi sumur. Padahal kedalamnya sumur air asin tersebut hanya sekitar 2 – 3 meter saja, bahkan ada aliran sungai didekatnya yang airnya sama sekali tidak asin.
Sejak dahulu kala hingga kini, sumur garam tersebut sudah dikelola secara komunal oleh warga dilakasi tersebut bahkan oleh desa sekitarnya. Puluhan kepala keluarga (KK) yang berada di beberapa desa sekitar lokasi Pa’nado mendapatkan kesempatan untuk bergiliran memproduksi garam gunung ini.
Masing-masing mendapat warga jatah dua pekan kemudian bergantian. Kalau dihitung - hitung dalam setahun ternyata giliran satu keluarga hanya sekali saja karena banyaknya warga di sekitar lokasi akan tetapi tidak pernah ada masalah.
Sebuah tradisi yang dibarengi dengan kearifan lokal untuk merawat sumber daya alam dan mencegah keserakahan dan kerusakan yang terjadi.
Untuk sekali produksi, dalam sehari rata-rata warga bisa membuat sekitar 20 kilogram tucu. Itu artnya dalam dua pekan tiap keluarga bisa memproduksi 280 kg atau hampir 300 kg garam gunung.
Hasil produksi gara gunung ini dijual rata-rata ke daerah Bakelalan, Sarawak, Malaysia. Per kilogram tucu’ Krayan yang sudah dikemas dengan daun dan plastik bisa dihargai sampai Rp 50 ribu per bungkus.
Kalau dinominalkan total dalam satu masa giliran produksi tiap keluarga bisa mengantongi sekitar Rp 14 juta. Angka yang cukup besar walau hanya mendapat jatah satu kali saja setahun.
Selain itu tentu tidak semua garam gunung hasil produksi dijual, akan tetapi ada yang disimpan untuk menjadi konsumsi sendiri.
Ada pula yang menjualnya garam gunung ini sebagai cenderamata khas Krayan dengan mengemas khusus menggunakan daun pisang atau menjadikannya oleh - oleh ketika berkunjung ke keluarga yang berada di wilayah dataran rendah.
Produksi tucu’ menggunakan alat - alat semacam wajan besar yang sudah diisi dengan air dari sumur yang asin tersebut lalu di panaskan dengan kayu bakar.
Tiga wadah besar disiapkan untuk menampung air sumur tersebut lalu air tersebut dimasak hingga mendidih. Proses produksinya setidaknya membutuhkan waktu selama puluhan jam untuk menghasilkan garam gunung hingga 20 kilogram dalam sekali produksi.
Sumur garam itu terletak tidak terlalu jauh dari Pos Gabungan Satgas Pamtas Republik Indonesia dengan Malaysia. Yaitu berjarak sekitar 500 meter saja. Jalan menuju ke sana umumnya jalan tanah dengan kondisi berlubang yang sangat jauh berbeda dengan kondisi jalan yang menuju wilayah Malaysia yang beraspal dengan bagus.
Wilayah Krayan yang kini terbagi ke dalam lima kecamatan mempunyai 33 tempat sebagai sumber garam gunung walau tidak semuanya bisa digunakan untuk produksi.
Krayan yang dikelilingi oleh Taman Nasional Kayan Mentarang itu hanya bisa dijangkau menggunakan transportasi udara dari wilayah Indonesia lain itupun terbatas hanya dari Nunukan saja. Dengan harga tiket masuk yang mahal yang kadang perlu dipesan sebulan sebelumnya.
Untuk jalur darat mencapainya harus melalui wilayah Malaysia tepatnya melalui Sarawak yang sebelumnya harus menyeberang laut lewat Tawau di Sabah lalu menuju Nunukan.
Di tengah krisis garam belakangan yang melanda negeri, bisa dibayangkan betapa bakal mahalnya garam gunung di Krayan seandainya tidak memproduksi garam sendiri. Tiap tahun Indonesia membutuhkan garam dengan total 4,3 juta ton untuk hasil produksi dan konsumsi sendiri. Sedangkan yang mampu dipasok dari dalam negeri hanya sekitar 1,8 juta ton Sisanya hasus diimpor dari luar negeri.
Sebuah hasil penelitian oleh Herman dan Rolan Rusli dari Universitas Mulawarman Samarinda menyebutkan bahwa garam Krayan mengandung sejumlah mineral penting, antara lain natrium (Na), kalium (K), magnesium (Mg), aluminium (Al), tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe), barium (Ba), dan stronsium (Sr). Khusus untuk natrium kandungan di garam gunung Krayan bisa mencapai sekitar 19,35 persen.
Keduanya menganalisis garam Krayan dengan teknik spektrometer serapan atom yang selanjutnya dengan melihat pola difraksi sinar X (XRD) dan scanning electron microscopy.
Garam gunung Krayan mengandung ion natrium yang sangat baik untuk dikonsumsi oleh tubuh karena ion natrium berfungsi untuk mengatur osmolaritas cairan, pH, dan volume darah serta membantu transmisi rangsangan saraf dan kontraksi otot
Adapun kandungan logam berat di garam Krayan antara lain tembaga yang masih berada dalam ambang batas normal sehingga pemakaian garam Krayan pada bahan makanan masih relatif aman untuk dikonsumsi.
The Ark of Taste adalah sebuah gerakan yang berfokus pada produksi skala kecil yang berhubungan erat dengan budaya, sejarah, dan tradisi di berbagai sudut dunia, telah pula mencantumkan tucu’ di situs resminya. Merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada masyarakat setempat agar tradisi membuat garam di Krayan itu tak sampai punah.
Dengan produksi yang diatur secara komunal sehingga tak pernah putus selama puluhan tahun, tucu’ Krayan bisa jadi tetap akan lestari dan krisis garam pun tidak akan pernah mampir ke wilayah Krayan yang sangat jauh dari laut tersebut.
300 kg garam bisa dihasilkan hanya dalam dua pekan. Produksi garam ini lebih dari konsumsi harian masyarakat di sana dan dibuat menjadi oleh-oleh khas Krayan bahkan dijual sampai ke Malaysia, negeri tetangga terdekat yang hanya dibatasi oleh perbatasan negara yang langsung bersebelahan dari wilayah yang masuk Kabupaten Nunukan tersebut.
Mereka sudah puluhan tahun memproduksi garam tucu’ yang merupakan sebutan nama garam dalam bahasa setempat.
Pa’nado adalah lokasi tempat sumur garam gunung di wilayah Krayan, Pa'nato sangat berkaitan erat dengan tradisi dan kepercayaan suku Dayak Lundayeh yang mendiami wilayah Krayan.

Dahulu kala dikisahkan dalam legenda warga masyarakat setempat bahwa sumur itu pada awalnya adalah lubang tempat seekor burung yang terjatuh setelah dipanah oleh nenek moyang salah satu sub suku Dayak di wilayah tersebut.
Setelah dengan sangat susah payah diambil kembali, burung tersebut dibakar untuk disantap bersama. Akan tetapi saat disantap bersama oleh warga rasa daging burung tersebut justru asin. Kemudian keesokan harinya warga kembali ke lokasi jatuhnya burung tersebut untuk memastikan bahwa air di lubang itu memiliki rasa asin.
Berawal dari kejadian itu pula diketahui bahwa air asin tersebut berasal dari lubang yang kini menjadi sumur. Padahal kedalamnya sumur air asin tersebut hanya sekitar 2 – 3 meter saja, bahkan ada aliran sungai didekatnya yang airnya sama sekali tidak asin.
Sejak dahulu kala hingga kini, sumur garam tersebut sudah dikelola secara komunal oleh warga dilakasi tersebut bahkan oleh desa sekitarnya. Puluhan kepala keluarga (KK) yang berada di beberapa desa sekitar lokasi Pa’nado mendapatkan kesempatan untuk bergiliran memproduksi garam gunung ini.
Masing-masing mendapat warga jatah dua pekan kemudian bergantian. Kalau dihitung - hitung dalam setahun ternyata giliran satu keluarga hanya sekali saja karena banyaknya warga di sekitar lokasi akan tetapi tidak pernah ada masalah.
Sebuah tradisi yang dibarengi dengan kearifan lokal untuk merawat sumber daya alam dan mencegah keserakahan dan kerusakan yang terjadi.
Untuk sekali produksi, dalam sehari rata-rata warga bisa membuat sekitar 20 kilogram tucu. Itu artnya dalam dua pekan tiap keluarga bisa memproduksi 280 kg atau hampir 300 kg garam gunung.
Hasil produksi gara gunung ini dijual rata-rata ke daerah Bakelalan, Sarawak, Malaysia. Per kilogram tucu’ Krayan yang sudah dikemas dengan daun dan plastik bisa dihargai sampai Rp 50 ribu per bungkus.
Kalau dinominalkan total dalam satu masa giliran produksi tiap keluarga bisa mengantongi sekitar Rp 14 juta. Angka yang cukup besar walau hanya mendapat jatah satu kali saja setahun.
Selain itu tentu tidak semua garam gunung hasil produksi dijual, akan tetapi ada yang disimpan untuk menjadi konsumsi sendiri.
Ada pula yang menjualnya garam gunung ini sebagai cenderamata khas Krayan dengan mengemas khusus menggunakan daun pisang atau menjadikannya oleh - oleh ketika berkunjung ke keluarga yang berada di wilayah dataran rendah.
Produksi tucu’ menggunakan alat - alat semacam wajan besar yang sudah diisi dengan air dari sumur yang asin tersebut lalu di panaskan dengan kayu bakar.
Tiga wadah besar disiapkan untuk menampung air sumur tersebut lalu air tersebut dimasak hingga mendidih. Proses produksinya setidaknya membutuhkan waktu selama puluhan jam untuk menghasilkan garam gunung hingga 20 kilogram dalam sekali produksi.
Sumur garam itu terletak tidak terlalu jauh dari Pos Gabungan Satgas Pamtas Republik Indonesia dengan Malaysia. Yaitu berjarak sekitar 500 meter saja. Jalan menuju ke sana umumnya jalan tanah dengan kondisi berlubang yang sangat jauh berbeda dengan kondisi jalan yang menuju wilayah Malaysia yang beraspal dengan bagus.
Wilayah Krayan yang kini terbagi ke dalam lima kecamatan mempunyai 33 tempat sebagai sumber garam gunung walau tidak semuanya bisa digunakan untuk produksi.
Krayan yang dikelilingi oleh Taman Nasional Kayan Mentarang itu hanya bisa dijangkau menggunakan transportasi udara dari wilayah Indonesia lain itupun terbatas hanya dari Nunukan saja. Dengan harga tiket masuk yang mahal yang kadang perlu dipesan sebulan sebelumnya.
Untuk jalur darat mencapainya harus melalui wilayah Malaysia tepatnya melalui Sarawak yang sebelumnya harus menyeberang laut lewat Tawau di Sabah lalu menuju Nunukan.
Di tengah krisis garam belakangan yang melanda negeri, bisa dibayangkan betapa bakal mahalnya garam gunung di Krayan seandainya tidak memproduksi garam sendiri. Tiap tahun Indonesia membutuhkan garam dengan total 4,3 juta ton untuk hasil produksi dan konsumsi sendiri. Sedangkan yang mampu dipasok dari dalam negeri hanya sekitar 1,8 juta ton Sisanya hasus diimpor dari luar negeri.
Sebuah hasil penelitian oleh Herman dan Rolan Rusli dari Universitas Mulawarman Samarinda menyebutkan bahwa garam Krayan mengandung sejumlah mineral penting, antara lain natrium (Na), kalium (K), magnesium (Mg), aluminium (Al), tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe), barium (Ba), dan stronsium (Sr). Khusus untuk natrium kandungan di garam gunung Krayan bisa mencapai sekitar 19,35 persen.
Keduanya menganalisis garam Krayan dengan teknik spektrometer serapan atom yang selanjutnya dengan melihat pola difraksi sinar X (XRD) dan scanning electron microscopy.
Garam gunung Krayan mengandung ion natrium yang sangat baik untuk dikonsumsi oleh tubuh karena ion natrium berfungsi untuk mengatur osmolaritas cairan, pH, dan volume darah serta membantu transmisi rangsangan saraf dan kontraksi otot
Adapun kandungan logam berat di garam Krayan antara lain tembaga yang masih berada dalam ambang batas normal sehingga pemakaian garam Krayan pada bahan makanan masih relatif aman untuk dikonsumsi.
The Ark of Taste adalah sebuah gerakan yang berfokus pada produksi skala kecil yang berhubungan erat dengan budaya, sejarah, dan tradisi di berbagai sudut dunia, telah pula mencantumkan tucu’ di situs resminya. Merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada masyarakat setempat agar tradisi membuat garam di Krayan itu tak sampai punah.
Dengan produksi yang diatur secara komunal sehingga tak pernah putus selama puluhan tahun, tucu’ Krayan bisa jadi tetap akan lestari dan krisis garam pun tidak akan pernah mampir ke wilayah Krayan yang sangat jauh dari laut tersebut.
Artikel bermanfaat lainnya tersedia di link berikut
Post a Comment for "Unik! Di Indonesia, Garam Tidak Hanya di Produksi dari Laut"