Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun
taukah-anda.com - Herayati asal Cilegon Banten adalah dosen muda yang lulus dengan predikat cumlaude dari Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Ia kemudian dipinang oleh Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) yang merupakan salah satu kampus ternama di Banten.
Heryati berhasil mewujudkan cita-cinta sebagai dosen di usia sangat muda walaupun berasal dari keluarga sederhana dengan pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.
Berikut fakta-fakta tentang Herayati, Dosen muda anak seorang pengayuh becak.
1. Pernah gagal masuk ITB
Herayati menyelesaikan kuliah dan lulus dari ITB dengan predikat cumlaude dengan indeks prestasi kuliah (IPK) 3,8. Namun Herayati mengaku pernah gagal untuk test masuk ITB di melalui seleksi penerimaan mahasiswa lewat jalur undangan. Tidak patah semangat Herayatipun mengikuti seleksi berikutnya lewat tes tertulis dan lolos di program studi Teknik Kimia.
Menjadi bagian dari civitas akademik ITB adalah cita-cita Herayati saat dia masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP).
Dari target lulus yang awalnya satu tahun karena program fast track Herayati mampu menyelesaikannya dalam waktu 10 bulan saja, itupun masa kuliahnya setengahnya dihabiskan di Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.
2. Cari uang tambahan
Ayah Herayati kesehariannya bekerja sebagai pengayuh becak sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga (IRT). Untuk membantu keuangan keluarga yang pas-pasan akhirnya Hewayati mencari tambahan, mulai dari jadi asisten dosen hingga ngajar bimbel
Saat memulai kuliahnya Herayati mendapatkan sejumlah beasiswa. Salah satunya dari program bidikmisi dikti serta bantuan beasiswa dari Pemerintah Kota Cilegon.
Namun beasiswa tersebut kadang kdang masih kurang menutupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara mengandalkan kiriman dari orangtuanya juga tidak tentu alias masih sedikit.
3. Hanya 10 bulan selesaikan kuliah S2 di ITB
Dari target permulaan yaitu lulus satu tahun saja di ITB Herayati mampu menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu 10 bulan saja itupun separuh dari masa kuliahnya diselesaikan di kampus luar negeri yaitu Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.
Perempuan yang akrab dipangil dengan nama Hera inipun melanjutkan kuliahnya di ITB juga dengan mengambil program fast track untuk S2, Herayati pun lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8.
4. Dosen di usia 22 tahun
Herayati lahir pada 17 April 1997 di Cilegon, setelah menyelesaikan SMA melanjutkan kuliah ke ITB. Setelah lulus S1 di ITB Herayoti diminta untuk menjadi dosen ke Universitas Sultan Agung Tirtayasa.
Tetapi saat itu Herayati baru lulus S1 sementara syarat menjadi dosen adalah minimal S2 makanya dia langsung melanjutkan ke S2
Setelah menyelesaikan S1 Jurusan Kimia jalur Fast Track di ITB Herayati melanjutkan kuliah S2 dan setelah lulus ia langsung diberi amanah untuk mengabdi sebagai dosen luar biasa di Jurusan Teknik di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta).
Herayati mulai mengajar mata kuliah kimia dasar pada bulan September 2019 di usia yang masih muda yakni 22 tahun di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta).
Herayati untuk sementara mengabdi menjadi dosen tidak tetap sembari menunggu pembukaan Dosen PNS, karema kampus negeri penerimaan dosen tetapnya menggunakan penjaringan PNS normal.
5. Doa dari orang tua
Herayati merasa bahwa kerja kerasnya selama ini tidaklah terlepas dari dukungan dan sokongan kedua orang tuanya yang selalu memberi yang terbaik walaupun mereka tidak mampu membiayai kuliahnya secara penuh, dukungan dan doanya ini tidak pernah berhenti dan selalu berarti bagi Herayati.
Walaupun Bapak dan Mama bukan orang yang berada akan tetapi tidak pernah melarang, walaupun kadang mereka diam akan tetapi tidak pernah bilang melarang dan selalu selalu mendukung Herayati walaupun tidak lewat materi akan tetapi doanya luar biasa.
Herayati asal Cilegon Banten menyelesaikan kuliah dan lulus dengan predikat cumlaude dari Institut Tekhnologi Bandung. Herayati kemudian dipinang oleh Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) yaitu salah satu kampus negeri ternama di Banteng untuk mengajar dan menjadi dosen untuk mata kuliah Kimia Dasar
Heryati berhasil mewujudkan cita-cinta sebagai dosen di usia sangat muda walaupun berasal dari keluarga sederhana dengan pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.
Berikut fakta-fakta tentang Herayati, Dosen muda anak seorang pengayuh becak.

1. Pernah gagal masuk ITB
Herayati menyelesaikan kuliah dan lulus dari ITB dengan predikat cumlaude dengan indeks prestasi kuliah (IPK) 3,8. Namun Herayati mengaku pernah gagal untuk test masuk ITB di melalui seleksi penerimaan mahasiswa lewat jalur undangan. Tidak patah semangat Herayatipun mengikuti seleksi berikutnya lewat tes tertulis dan lolos di program studi Teknik Kimia.
Menjadi bagian dari civitas akademik ITB adalah cita-cita Herayati saat dia masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP).
Dari target lulus yang awalnya satu tahun karena program fast track Herayati mampu menyelesaikannya dalam waktu 10 bulan saja, itupun masa kuliahnya setengahnya dihabiskan di Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.
2. Cari uang tambahan
Ayah Herayati kesehariannya bekerja sebagai pengayuh becak sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga (IRT). Untuk membantu keuangan keluarga yang pas-pasan akhirnya Hewayati mencari tambahan, mulai dari jadi asisten dosen hingga ngajar bimbel
Saat memulai kuliahnya Herayati mendapatkan sejumlah beasiswa. Salah satunya dari program bidikmisi dikti serta bantuan beasiswa dari Pemerintah Kota Cilegon.
Namun beasiswa tersebut kadang kdang masih kurang menutupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara mengandalkan kiriman dari orangtuanya juga tidak tentu alias masih sedikit.
3. Hanya 10 bulan selesaikan kuliah S2 di ITB
Dari target permulaan yaitu lulus satu tahun saja di ITB Herayati mampu menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu 10 bulan saja itupun separuh dari masa kuliahnya diselesaikan di kampus luar negeri yaitu Chulalongkorn University Thailand lewat program student exchange.
Perempuan yang akrab dipangil dengan nama Hera inipun melanjutkan kuliahnya di ITB juga dengan mengambil program fast track untuk S2, Herayati pun lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8.
4. Dosen di usia 22 tahun
Herayati lahir pada 17 April 1997 di Cilegon, setelah menyelesaikan SMA melanjutkan kuliah ke ITB. Setelah lulus S1 di ITB Herayoti diminta untuk menjadi dosen ke Universitas Sultan Agung Tirtayasa.
Tetapi saat itu Herayati baru lulus S1 sementara syarat menjadi dosen adalah minimal S2 makanya dia langsung melanjutkan ke S2
Setelah menyelesaikan S1 Jurusan Kimia jalur Fast Track di ITB Herayati melanjutkan kuliah S2 dan setelah lulus ia langsung diberi amanah untuk mengabdi sebagai dosen luar biasa di Jurusan Teknik di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta).
Herayati mulai mengajar mata kuliah kimia dasar pada bulan September 2019 di usia yang masih muda yakni 22 tahun di Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta).
Herayati untuk sementara mengabdi menjadi dosen tidak tetap sembari menunggu pembukaan Dosen PNS, karema kampus negeri penerimaan dosen tetapnya menggunakan penjaringan PNS normal.
5. Doa dari orang tua
Herayati merasa bahwa kerja kerasnya selama ini tidaklah terlepas dari dukungan dan sokongan kedua orang tuanya yang selalu memberi yang terbaik walaupun mereka tidak mampu membiayai kuliahnya secara penuh, dukungan dan doanya ini tidak pernah berhenti dan selalu berarti bagi Herayati.
Walaupun Bapak dan Mama bukan orang yang berada akan tetapi tidak pernah melarang, walaupun kadang mereka diam akan tetapi tidak pernah bilang melarang dan selalu selalu mendukung Herayati walaupun tidak lewat materi akan tetapi doanya luar biasa.
Herayati asal Cilegon Banten menyelesaikan kuliah dan lulus dengan predikat cumlaude dari Institut Tekhnologi Bandung. Herayati kemudian dipinang oleh Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) yaitu salah satu kampus negeri ternama di Banteng untuk mengajar dan menjadi dosen untuk mata kuliah Kimia Dasar
Artikel bermanfaat lainnya tersedia di link berikut
Post a Comment for "Anak Pengayuh Becak yang Menjadi Dosen Kimia di Usia 22 Tahun"